Sidoarjo | klikku.id – Inovasi teknologi kini merambah dunia batik. Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) bersama Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, menghadirkan mesin robot motif batik portabel untuk Industri Rumah Tangga (IRT) Batik Namiroh di Lemahputro, Sidoarjo.
Alat berukuran 60 x 100 sentimeter itu resmi diperkenalkan, Senin (15/9/2025), dalam rangkaian program PKM bertema Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Berbasis Green Economy di Kampung Batik Kabupaten Sidoarjo.
Program yang berlangsung sejak Juni 2025, dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek ini, melibatkan tiga dosen Unitomo–Untag. Yakni Dr. Yoosita Aulia selaku ketua tim, Dr. Dian Ferriswara, dan Maula Nafi. Mereka juga dibantu tiga mahasiswa Unitomo.
Yoosita menjelaskan, Batik Namiroh masih bergantung pada batik tulis sintetis dengan 90 persen motif tradisional Madura. Kondisi rumah produksinya pun memprihatinkan.
“Layout ruang kerja tidak tertata, galeri sempit, proses canting dan pewarnaan dikerjakan di teras. Proses penghalusan kain masih dipukul dengan palu kayu,” ungkapnya.
Dian Ferriswara menambahkan, masalah lain ada pada kemasan dan manajemen. Batik hanya dilipat dan diikat per lima potong, tanpa branding yang menarik. Pembukuan pun masih berupa catatan kecil.
“Dari 25 pengrajin, yang aktif hanya sembilan. Sebagian lainnya bekerja di pabrik, jadi produksi sering tersendat,” katanya.
Untuk menjawab tantangan itu, tim merancang mesin robot yang mampu menggambar pola batik jauh lebih cepat. “Kalau manual bisa sampai tiga minggu, dengan mesin ini cukup tiga jam,” jelas Yoosita.
Alat ini diperkirakan mampu meningkatkan produksi hingga 40 persen, menghemat malam, sekaligus menjaga kualitas.
Maula Nafi menegaskan, teknologi ini tidak menghapus sentuhan tradisional. “Meski ada robot, proses manual tetap kami pertahankan agar nilai historis batik tidak hilang,” ujarnya saat mendampingi pelatihan penggunaan alat.
Sebagai bentuk dukungan, tim PKM menyerahkan satu unit mesin kepada Batik Namiroh.
“Kami berharap pengrajin bisa memanfaatkannya untuk menciptakan motif lebih variatif, termasuk logo instansi yang selama ini sulit dibuat manual,” kata Yoosita.
Ia juga mengapresiasi dukungan DPPM Kemdiktisaintek atas pendanaan program ini. Tim berharap inovasi itu mampu mengangkat kualitas dan daya saing batik Lemahputro.
Sekaligus menarik minat generasi muda untuk terus melestarikan warisan budaya dengan sentuhan teknologi ramah lingkungan. @Man
