Surabaya | klikku.id – Polemik kadar etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) akhirnya dijawab oleh kalangan ahli. Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi) Tatang Hernas Soerawidjaja memastikan campuran etanol 3,5 persen dalam BBM Pertamina masih jauh di bawah ambang batas internasional dan aman digunakan.
“World-wide Fuel Charter menetapkan bensin boleh mengandung oksigen maksimal 2,7 persen berat. Kalau etanol, umumnya dicampur hingga 5 persen volume. Jadi 3,5 persen itu masih dalam standar, bahkan relatif rendah,” tegas Tatang, Jumat (3/10).
Ia mencontohkan Brasil sebagai negara yang sudah lebih dulu mengembangkan bioetanol. Campuran etanol dalam bensin di Negeri Samba bisa mencapai 20 persen volume, bahkan mobil berbahan bakar fleksibel di sana mampu menyesuaikan komposisi udara dan uap bahan bakar secara otomatis ketika kadar bioetanolnya naik hingga 95 persen volume.
“Kalau dibandingkan global, kadar 3,5 persen di Indonesia ini tergolong sangat rendah. Tapi tetap harus dilihat sebagai langkah awal positif. Pemerintah bisa memulai dari 5 persen lalu perlahan ditingkatkan sambil menyiapkan kehadiran flexible-fuel vehicle,” paparnya.
Menurut Tatang, pencampuran bioetanol justru membawa banyak manfaat. Selain meningkatkan angka oktan, emisi gas buang kendaraan juga lebih bersih
. Di sejumlah negara dengan tingkat polusi tinggi, pencampuran etanol bahkan diwajibkan oleh regulasi demi menurunkan emisi.
Lebih jauh, pemanfaatan bioetanol dipandang sebagai strategi penting dalam mendukung target net zero emission 2060.
“Bioetanol bukan sekadar energi bersih. Kalau dikelola dengan benar, ia juga bisa mengurangi impor minyak mentah, memberi nilai tambah bagi sektor pertanian, dan membuka peluang baru energi terbarukan,” ungkapnya.
Dengan demikian, kehadiran etanol 3,5 persen di BBM Pertamina tidak hanya soal teknis pencampuran, melainkan bagian dari agenda besar transisi energi nasional yang melibatkan pemerintah, industri, dan masyarakat. R3d
