PROBOLINGGO | klikku.id – Industri kreatif batik di Kota Probolinggo mulai naik kelas. Melalui program Pemberdayaan Mitra–Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD), tim dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas WR Supratman (Unipra), menghadirkan inovasi teknologi yang secara nyata meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi pengrajin lokal.
Program yang didukung pendanaan Kemendiktisaintek 2025 itu diketuai Dr. Dra. Fedianty Augustinah, MM. (Unitomo), menggandeng dua IKM, yakni Batik Wahyulatri dan Poerwa Batik di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.
Fedianty menjelaskan, kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan mutu, tetapi juga modernisasi proses produksi. Dua inovasi utama yang dikenalkan adalah mesin pengering Dry Room Infrared dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ramah lingkungan.
“Mesin pengering infrared ini sudah terdaftar sebagai paten sederhana di Kemenkumham. Kapasitasnya mampu mengeringkan 16 lembar batik dalam 10 menit, dan menurunkan biaya produksi hingga 70 persen,” ujarnya.
Dua unit alat itu langsung dihibahkan kepada mitra sebagai bentuk dukungan keberlanjutan usaha.
Selain teknologi produksi, tim juga memperkuat kemampuan manajerial pengrajin. Dr. Ir. Suyanto, MM., ME. menuturkan bahwa pelatihan usaha, digital marketing, dan pembukuan akuntansi menjadi kunci agar IKM batik mampu bersaing di era ekonomi digital.
Hasilnya terlihat cepat. “Kapasitas produksi naik 35–40 persen, penjualan digital meningkat hingga 40 persen, dan muncul peluang kerja baru di sekitar sentra batik,” kata Suyanto.
Penggunaan IPAL turut mendorong praktik green economy dengan menekan pencemaran limbah pewarna.
Manfaat program ini dirasakan langsung pengrajin. Eva Sugiarti, pemilik Batik Wahyulatri, mengaku proses kerja kini jauh lebih efisien.
“Dulu pengeringan bisa berjam-jam. Sekarang cukup 10 menit. Listrik hemat, warna lebih merata, dan tidak mudah pudar,” tuturnya. Pemasaran digital juga membuka pasar baru di luar Probolinggo.
Fedianty berharap keberhasilan ini bisa direplikasi daerah lain. “Inovasi teknologi bukan hanya soal efisiensi, tapi menjaga warisan batik sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin,” tegasnya. AMan
