Kesehatan Pendidikan Peristiwa

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:28 WIB

3 bulan yang lalu

logo

46 Dokter Unusa Siap Mengabdi hingga Pelosok Nusantara

SURABAYA | klikku.id  – Auditorium Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendadak hening, Rabu (11/2) siang. Deretan busana nasional berdiri tegap. Jas dan dasi rapi di sisi laki-laki, kebaya anggun di sisi perempuan.

Di hadapan keluarga, 46 dokter baru FK Unusa mengucap sumpah, janji yang tak sekadar seremonial, tetapi komitmen hidup.

Kalimat demi kalimat mengalir pelan, berat, dan menyatu. Gema sumpah itu seolah melampaui ruangan, menuju tempat-tempat yang kelak mereka layani.

Sebab, sebagian besar dari mereka datang dari wilayah yang jauh dari rumah sakit besar, pulau terluar, pedalaman, daerah yang di peta hanya tampak sebagai titik kecil.

Empat di antaranya, Pia, Nabila, Rafli, dan Nuzlan, menjadi potret arah pengabdian itu. Pia, putri guru dari Mobagu, Sulawesi Utara, tumbuh dengan cerita warga yang harus menunda berobat karena jarak layanan kesehatan.

“Sejak awal saya ingin kembali ke Mobagu,” ujarnya. Baginya, dokter bukan hanya menyembuhkan, tapi menghadirkan rasa tenang.

Nabila Yusmawati membawa kenangan jalan berlumpur di Papua Barat. Ia kerap ikut ibunya, dokter sekaligus Kadinkes setempat, melayani wilayah terpencil.

Wajah penuh harap warga, dan hasil kebun sebagai tanda terima kasih, menegaskan makna profesi. Usai dilantik, ia ingin pulang dan memilih bidang yang menjawab kebutuhan Papua.

Muhammad Rafli berasal dari Tarakan. Dua kakaknya sudah lebih dulu mengabdi. Pengalaman resusitasi jantung paru, membuatnya tertarik pada kardiologi. Ia ingin memperpanjang harapan hidup masyarakat di daerahnya.

Sementara dr. Nuzlan Nuari dari Morotai, Maluku Utara, menaklukkan dunia kedokteran dari nol. Pengalaman internasional di Malaysia justru menguatkan tekadnya untuk pulang. Mimpinya, bedah saraf dan menjadi akademisi yang memperkuat sistem kesehatan daerah.

Di tengah arus karier ke kota besar, pilihan mereka terasa sunyi, tetapi bermakna. Pulang bukan mundur. Pulang adalah keberanian.

Ketika prosesi usai, 46 dokter muda itu melangkah membawa lebih dari gelar. Mereka membawa janji yang akan bergema hingga pelosok Nusantara, yakni hadir, melayani, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya. AMan


 

74

Baca Lainnya