Hiburan Pariwisata Peristiwa

Selasa, 12 Agustus 2025 - 06:09 WIB

12 bulan yang lalu

logo

Lontong Balap “Soerabaia Djaman Bien” di Wonokromo, Perempuan & Anak Muda Gerakkan Budaya

Surabaya | klikku.id – Lapangan Flores, Kecamatan Wonokromo, berubah menjadi lautan manusia, Senin (11/8) sore. Wangi kuah lontong balap bercampur suara tawa, musik, dan tepuk tangan warga yang memadati Festival Lontong Balap bertajuk “Soerabaia Djaman Bien”.

Festival yang digelar 8–17 Agustus 2025 ini bukan sekadar pesta kuliner. Ia menjadi panggung kebangkitan budaya lokal yang digerakkan oleh perempuan dan generasi muda.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya Rini Indriyani Eri Cahyadi hadir langsung. Mengenakan celemek batik, ia memimpin aksi memasak bersama PKK dari seluruh kelurahan di Wonokromo.

Tujuh meja besar dipenuhi uap panas dan aroma sedap, menghasilkan sekitar seribu porsi lontong balap yang dibagikan gratis.

“Pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri tanpa kolaborasi masyarakat. Saat warga bergerak seperti ini, saya yakin Surabaya akan semakin luar biasa,” ujar Rini.

Inisiatif festival ini datang dari Karang Taruna Kecamatan Wonokromo dan mendapat dukungan penuh dari Karang Taruna Kota Surabaya. Ketua Karang Taruna Kota, Febryan Kiswanto, menyebut kegiatan ini bukti anak muda mampu menjadi penggerak sosial.

“Kalau arek enom diberi ruang, mereka bisa membawa perubahan nyata,” katanya.

Suasana sore itu semakin meriah dengan devile Kampung Pancasila yang dibawakan siswa SDN Ngagel I. Mereka tampil dengan kostum kreatif, yel-yel lantang, serta poster edukatif yang menggambarkan empat pokja: lingkungan, kemasyarakatan, sosial budaya, dan ekonomi.

Tak kalah menarik, anak-anak sekolah tersebut juga membawakan kisah asal-usul lontong balap dalam tiga bahasa, Jawa Suroboyoan, Indonesia, dan Inggris. Dengan narasi ekspresif, mereka sukses membuat penonton terpukau.

Menurut Ketua Panitia Roby Hidayat, festival ini bukan hanya memperkuat kebersamaan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Selama beberapa hari pelaksanaan, nilai perputaran uang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. “Harapan kami, ini jadi agenda tahunan Wonokromo,” ujarnya.

Menjelang malam, lampu-lampu temaram menemani warga bergoyang bersama Cak Sodiq, diiringi band lokal dan grup anak-anak Adins Volins Kids. Wonokromo malam itu benar-benar hidup, seperti Surabaya tempo dulu yang penuh energi, rasa, dan canda. R3d


 

83

Baca Lainnya