Pendidikan

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:29 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Berawal Empati pada Pasien Diabetes, Dosen Unusa Ciptakan Terapi Herbal dan Kantongi Paten

SURABAYA | klikku.id – Kepedulian terhadap penderitaan pasien diabetes melahirkan sebuah inovasi baru dari kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Unusa, Iis Noventi, berhasil mengembangkan Jatu Hydroterapi Herbal, terapi komplementer berbasis bahan alami untuk membantu mengurangi nyeri dan kebas akibat neuropati diabetik. Inovasi tersebut kini resmi mengantarkannya meraih sertifikat paten.

Terapi ini menggunakan komposisi herbal dari berbagai rempah Nusantara, seperti lombok merah, jinten hitam, kunyit, delingu, jahe, kayu manis, cuka apel, dan garam laut. Campuran itu digunakan dalam metode perendaman kaki dengan air es yang telah diberi ramuan herbal.

“Pasien diabetes sering mengeluh nyeri dan mati rasa di kaki. Dari situ saya terpikir bagaimana membantu mereka agar lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari,” ujar Iis.

Pengembangan Jatu Hydroterapi Herbal dimulai sejak 2023 melalui dukungan matching fund internal Unusa. Iis meracik formulasi berbasis evidence-based practice dan melakukan eksplorasi bahan hingga ke Jawa Tengah, mengikuti pelatihan rempah di Yogyakarta, serta berdiskusi dengan pakar dari Universitas Jenderal Soedirman.

Uji coba lapangan dilakukan bersama Puskesmas Sawahan Surabaya. Sebanyak 60 penderita diabetes dilibatkan dan dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama hanya direndam air dingin, kelompok kedua menggunakan Jatu Hydroterapi Herbal, dan kelompok ketiga mengombinasikan terapi herbal dengan senam kaki.

Hasilnya, kelompok yang mengombinasikan herbal dan senam kaki menunjukkan penurunan nyeri paling signifikan. Disusul kelompok yang hanya memakai Jatu Hydroterapi Herbal. Sementara kelompok air dingin mencatat penurunan paling kecil.

“Responden merasakan nyeri dan kebas berkurang. Hasilnya memang paling optimal jika dilakukan rutin dan dikombinasikan dengan senam kaki,” jelasnya.

Saat ini Jatu Hydroterapi Herbal masih berbentuk bahan kering (simplisia). Ke depan, Iis menargetkan inovasi ini naik kelas menjadi produk farmasi herbal yang terstandar.

“Harapannya bisa diekstraksi, diformulasikan lebih lanjut, dan didaftarkan ke BPOM agar bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya.

Prestasi ini sekaligus menegaskan peran dosen Unusa dalam menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi kesehatan masyarakat, khususnya bagi penyintas diabetes yang membutuhkan solusi terapi komplementer yang aman dan terjangkau. AMan


 

103

Baca Lainnya