Kasuistika Nasional

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:48 WIB

15 jam yang lalu

logo

Epidemi HIV Masih Mengintai, Deteksi Dini Jadi Kunci

JAKARTA | klikku.id – Di tengah perhatian publik terhadap stunting, tuberkulosis, dan penyakit tidak menular, kasus HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi tantangan serius.

Bahkan, epidemi HIV dinilai berpotensi mengancam bonus demografi karena mayoritas kasus terjadi pada kelompok usia produktif.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 564 ribu orang.

Namun hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau 63 persen yang mengetahui status kesehatannya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 67 persen menjalani terapi antiretroviral (ARV), sementara hanya 55 persen yang berhasil mencapai supresi virus.

Kondisi itu menunjukkan masih banyak penderita HIV yang belum mendapatkan penanganan optimal.

Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Budi Setiyono mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan ketersediaan obat, melainkan rendahnya deteksi dini.

“HIV dapat berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun sehingga banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi,” ujarnya.

Menurut dia, keterlambatan diagnosis membuat sebagian pasien baru mengetahui status HIV setelah mengalami komplikasi serius seperti tuberkulosis, pneumonia, atau penurunan berat badan drastis.

Indonesia saat ini tercatat berada di peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang hidup dengan HIV dan peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru.

Sebanyak 74 persen kasus yang teridentifikasi berada pada kelompok usia 25 hingga 49 tahun, atau kelompok yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan pembangunan nasional.

Kasus HIV juga terkonsentrasi di 11 provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau.

Selain rendahnya deteksi dini, stigma terhadap HIV masih menjadi hambatan besar. Banyak orang enggan melakukan tes atau menjalani pengobatan karena khawatir mendapat diskriminasi.

Karena itu, pemerintah mendorong perluasan akses tes HIV, penguatan edukasi pencegahan, peningkatan cakupan terapi ARV, serta pemanfaatan metode pencegahan modern seperti Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP).

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencapai target global 95-95-95 pada 2030 dan menekan laju infeksi baru HIV di Indonesia. AM@n


 

14

Baca Lainnya